Maksimum satu GAPURA untuk setiap kecamatan.
Dari sinyal pasar menjadi 285 lokasi GAPURA
Model bekerja dalam dua keputusan terpisah: memilih kecamatan yang menarik, lalu mencari titik POI paling strategis di dalam kecamatan tersebut. Constraint jarak dan kuota diterapkan setelahnya.
Bukan koordinat site atau demand anchor.
42 Inner · 99 Outer · 144 West Java.
Prioritas pasar kuat dengan dukungan aktivitas POI.
Dua sinyal untuk menentukan prioritas wilayah
Semua KPI terlebih dahulu dijumlahkan pada level kecamatan. Nilainya diubah menjadi percentile 0–100 agar metrik dengan satuan berbeda dapat dibandingkan. Bobot Revenue dan POI dapat diubah langsung dari slider dashboard dan selalu berjumlah 100%.
+ 10% HVC rate + 5% User basePercentile dibandingkan terhadap seluruh kecamatan dalam data.
+ 20% keberagaman kategoriVolume dibandingkan dalam region yang sama.
+ 45% POIDigunakan untuk mengurutkan prioritas kecamatan.
Pilih kecamatan dahulu, kemudian koordinat final
Kecamatan berperingkat tinggi belum otomatis terpilih. Model mencari POI dari kategori aktif, menguji jaraknya terhadap gerai existing, lalu memilih POI dengan konsentrasi aktivitas tertinggi.
Kategori mengikuti checklist yang dipilih pengguna.
Default: Inner 1 km · Outer 2 km · West Java 3 km.
Jumlah kategori aktif menjadi ukuran kepadatan lokal.
Density index dan category fit menjadi tie-breaker.
Greedy allocation dengan kuota dan spacing
Kandidat eligible diurutkan dari Selection Score tertinggi. Model membaca kandidat satu per satu dan hanya memilihnya jika seluruh aturan berikut terpenuhi.
Hanya kandidat terbaik yang mewakili setiap kecamatan.
Inner Jakarta 42 · Outer Jakarta 99 · West Java 144.
Default 1,5 km · 2,5 km · 4 km. Untuk dua region berbeda dipakai threshold yang lebih besar.
Target dapat kurang jika constraint tidak memungkinkan jumlah penuh.
Cara membaca hasil model
Dashboard mempertahankan actual KPI dan skor model agar keputusan dapat ditelusuri dari nilai bisnis hingga alasan seleksi.
Memenuhi buffer existing, satu kecamatan satu GAPURA, kuota region, dan spacing antar-GAPURA.
Memiliki POI yang lolos buffer existing, tetapi tidak masuk kuota atau kalah dalam aturan spacing.
Tidak memiliki kategori POI aktif atau seluruh shortlist POI berada di dalam buffer gerai existing.
- Prioritas relatif antar-kecamatan.
- Lokasi POI yang paling strategis menurut data tersedia.
- Dampak perubahan bobot, buffer, kategori, dan spacing.
- Alasan kandidat selected, eligible, atau excluded.
- Revenue footprint bukan forecast incremental revenue.
- Percentile menunjukkan posisi relatif, bukan besaran uplift.
- Hasil bergantung pada kelengkapan dan kebaruan data POI/KPI.
- Validasi lapangan tetap diperlukan sebelum eksekusi gerai.